BBM Langka di Selayar, Harga Pengecer Menggila: Setengah Botol Rp25 Ribu
Selayarkini - Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Kepulauan Selayar kembali memicu keresahan masyarakat. Di tengah sulitnya mendapatkan BBM di jalur resmi, warga mengaku terpaksa membeli dari pengecer dengan harga yang dinilai semakin tidak masuk akal.
Hasmiati, salah seorang warga, mengeluhkan harga BBM eceran yang kini disebut mencapai Rp25 ribu hanya untuk setengah botol.
“Setengah botol Rp25 ribu,” keluh Hasmiati. 01/09/2026
Bukan hanya itu. Berdasarkan keluhan yang berkembang di masyarakat, harga BBM eceran disebut bisa mencapai Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per botol, dengan volume yang bahkan tidak mencapai satu liter.
Kondisi tersebut membuat masyarakat berada pada posisi sulit. BBM dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari, sementara ketika pasokan di jalur resmi sulit diperoleh, warga tidak memiliki banyak pilihan selain membeli dari pengecer dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang lebih besar: sebenarnya ke mana menghilangnya BBM di Selayar?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting mengingat persoalan kelangkaan BBM di Selayar bukan pertama kali terjadi. Pada Februari 2026, kelangkaan BBM juga sempat terjadi dan harga di tingkat pengecer dilaporkan mencapai sekitar Rp20 ribu per liter. Saat itu Pertamina menjelaskan bahwa distribusi BBM ke Selayar terkendala cuaca ekstrem dan jalur pengiriman laut.
Namun, kondisi terkini kembali memunculkan keresahan. Apalagi, di tengah keluhan masyarakat mengenai sulitnya mendapatkan BBM, publik juga menyoroti informasi mengenai keberadaan ratusan drum BBM di salah satu gudang di wilayah Benteng.
Sejumlah pemberitaan menyebut sekitar 285 drum BBM berada di lokasi tersebut, dengan volume yang diperkirakan mencapai puluhan ribu liter. Legalitas, asal-usul, status dan peruntukan BBM tersebut menjadi pertanyaan yang perlu dijawab secara terbuka.
Pemerintah pusat sendiri sebelumnya telah mengakui bahwa Selayar memiliki persoalan struktural dalam rantai pasok BBM. Ditjen Migas ESDM menyebut distribusi ke Kepulauan Selayar sangat bergantung pada transportasi laut dari Terminal BBM Makassar. Gangguan cuaca dapat membuat pasokan terputus dan berdampak langsung terhadap harga BBM di kepulauan.
Tetapi masyarakat tentu berhak mendapatkan penjelasan yang lebih konkret ketika harga BBM di tingkat pengecer melonjak hingga puluhan ribu rupiah sementara kebutuhan masyarakat terus berjalan.
Apakah persoalannya murni karena distribusi? Apakah ada permainan di tingkat distribusi dan penyaluran? Ataukah terdapat BBM yang dialihkan ke jalur lain sebelum sampai kepada masyarakat?
Semua pertanyaan itu tentu membutuhkan pembuktian, bukan sekadar asumsi.
Karena itu, aparat penegak hukum dan instansi terkait didesak melakukan penelusuran menyeluruh terhadap rantai distribusi BBM di Selayar, mulai dari sumber pasokan, jumlah yang masuk, penyaluran ke lembaga resmi, hingga titik-titik penyimpanan dan penjualan eceran.
Sebab ketika masyarakat harus membeli setengah botol BBM seharga Rp25 ribu, sementara harga per botol disebut mencapai Rp30 ribu hingga Rp35 ribu, maka persoalannya bukan lagi sekadar kelangkaan.
Pertanyaan publik kini sederhana, tetapi mendesak: ke mana sebenarnya BBM Selayar menghilang?
Baca Juga:

Posting Komentar