BESTI JELITA, Upaya Puskesmas Buki Jemput dan Layani Penderita TBC
Selayarkini - Dalam upaya meningkatkan penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan Tuberkulosis (TBC), UPTD Puskesmas Buki mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap gejala TBC melalui program BESTI JELITA (Bebas TB, Jemput dan Layani Penderita TB). Program ini bertujuan memberikan pelayanan yang mudah dijangkau sekaligus mendorong masyarakat agar segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala TBC.
Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini umumnya menyerang paru-paru, namun juga dapat menyerang organ tubuh lainnya. TBC masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang membutuhkan perhatian bersama karena penularannya dapat terjadi melalui udara.
Masyarakat diimbau untuk mengenali gejala TBC sejak dini. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain batuk berdahak selama lebih dari dua minggu, demam ringan berkepanjangan, berkeringat pada malam hari tanpa aktivitas, penurunan berat badan secara drastis, nafsu makan menurun, serta tubuh yang mudah lemas dan cepat lelah.
Kepala UPTD Puskesmas Buki, H. Faisal Anas, mengatakan Program BESTI JELITA merupakan komitmen Puskesmas Buki dalam mempercepat penemuan kasus TBC sekaligus memastikan setiap pasien mendapatkan pelayanan dan pengobatan hingga tuntas.
"Melalui Program BESTI JELITA, kami ingin memastikan masyarakat yang memiliki gejala TBC dapat terdeteksi sedini mungkin dan memperoleh pengobatan secara cepat, tepat, serta gratis. TBC bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Dengan disiplin menjalani pengobatan selama minimal enam bulan sesuai anjuran tenaga kesehatan, pasien memiliki peluang sembuh yang sangat tinggi," ujar H. Faisal Anas.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak memberikan stigma kepada penderita TBC, melainkan memberikan dukungan agar mereka tetap semangat menjalani pengobatan hingga selesai.
"Kami berharap masyarakat tidak takut untuk memeriksakan diri jika mengalami batuk lebih dari dua minggu atau gejala lainnya. Semakin cepat ditemukan, semakin cepat diobati dan risiko penularan dapat ditekan. Mari bersama-sama mendukung penderita hingga sembuh demi mewujudkan Indonesia Bebas TBC," tutupnya.
Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terkena TBC di antaranya adalah orang yang tinggal serumah dengan penderita TBC, mereka yang memiliki daya tahan tubuh lemah seperti penderita HIV, diabetes, atau gizi buruk, perokok aktif, serta masyarakat yang tinggal di lingkungan padat dengan ventilasi yang kurang baik.
Penularan TBC terjadi melalui udara ketika penderita TBC aktif batuk, bersin, atau berbicara. Percikan dahak atau droplet yang mengandung bakteri dapat terhirup oleh orang lain sehingga menyebabkan penularan.
Untuk mencegah penyebaran penyakit ini, masyarakat dianjurkan membuka jendela dan menjaga sirkulasi udara di rumah, menutup mulut saat batuk atau bersin, menerapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, dan cukup beristirahat. Selain itu, masyarakat juga diimbau menghindari rokok dan alkohol serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala TBC.
Puskesmas Buki menegaskan bahwa TBC dapat disembuhkan dengan pengobatan yang teratur selama minimal enam bulan. Pasien diminta untuk mengonsumsi obat setiap hari sesuai anjuran tenaga kesehatan dan tidak menghentikan pengobatan meskipun kondisi tubuh sudah membaik. Seluruh layanan pengobatan TBC di Puskesmas Buki tersedia secara gratis.
Melalui program BESTI JELITA, Puskesmas Buki mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung penderita hingga sembuh dan bersama-sama memutus rantai penularan TBC. Masyarakat yang mengalami gejala atau membutuhkan informasi lebih lanjut dapat menghubungi UPTD Puskesmas Buki melalui nomor 085240555131, email buki.pusk@gmail.com, atau akun Instagram @puskesmasbuki.
"Obat boleh pahit, tapi putus obat jauh lebih berbahaya. Dukung sampai sembuh penderitanya, jauhi penyakitnya. Bersama, Indonesia Bebas TBC."


Posting Komentar