Daerah Tanpa Hiburan: Kota yang Hidup dari APBD, Mati dari Aktivitas
Sebuah daerah tidak cukup hanya hidup dari aliran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Tanpa denyut aktivitas sosial, budaya, dan hiburan, sebuah kota berisiko menjadi ruang administrasi semata ramai di kantor pemerintahan, sunyi di ruang publik.
Hiburan kerap dianggap isu pinggiran, bahkan dicurigai sebagai pemborosan. Padahal, sektor hiburan adalah wajah lain dari peradaban kota. Ia menghidupkan malam, menggerakkan ekonomi kreatif, membuka lapangan kerja, dan menjadi ruang ekspresi generasi muda. Kota tanpa hiburan kehilangan daya tarik, kehilangan semangat, dan perlahan ditinggalkan.
Ketika tidak ada ruang pertunjukan, taman budaya, event seni, atau aktivitas kreatif yang berkelanjutan, masyarakat terutama anak muda—memilih pergi. Mereka mencari kota yang memberi ruang tumbuh, bukan sekadar tempat mengurus administrasi. Akibatnya, perputaran ekonomi mandek dan daerah semakin bergantung pada APBD sebagai satu-satunya sumber hidup.
Ketergantungan berlebihan pada APBD menciptakan ilusi stabilitas. Dana memang mengalir tiap tahun, tetapi tidak menciptakan kemandirian. Kota menjadi pasif, menunggu proyek, menunggu anggaran, menunggu instruksi. Sementara potensi lokal seni, budaya, musik, kuliner, komunitas dibiarkan mati pelan-pelan.
Ironisnya, banyak daerah kaya potensi budaya justru miskin panggung. Seni hidup di seremoni, bukan di ruang publik. Hiburan hadir saat perayaan, lalu menghilang. Padahal kota yang sehat adalah kota yang memberi ruang warganya untuk berbahagia, berekspresi, dan berinteraksi.
Membangun hiburan bukan berarti membangun kemewahan. Ia bisa dimulai dari ruang terbuka yang ramah, kalender event yang konsisten, keberpihakan pada komunitas kreatif, dan regulasi yang tidak mematikan inisiatif. Hiburan adalah investasi sosial, bukan beban anggaran.
Daerah yang menolak hiburan sejatinya sedang membangun kota tanpa jiwa. Kota mungkin berdiri, tetapi tidak hidup. Dan kota yang hanya bergantung pada APBD, tanpa denyut kreativitas dan hiburan, lambat laun akan menjadi kota mati yang sibuk mengelola angka, namun kehilangan manusia.




