Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Rupiah Tertekan, Dolar AS Dekati Rp18.000 Jelang Rilis Data Tenaga Kerja dan PMI Jasa Amerika Serikat

 


Selayarkini – Nilai tukar Rupiah kembali mengalami tekanan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) dan semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini terjadi menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, termasuk data tenaga kerja ADP dan PMI sektor jasa yang menjadi perhatian pelaku pasar global. 

Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), pasangan mata uang USD/IDR tercatat menguat sekitar 0,70 persen ke level Rp17.930,4 per dolar AS. Pergerakan tersebut menempatkan Rupiah di dekat posisi terlemahnya dalam setahun terakhir dan memicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan tembusnya level Rp18.000. 

Data kurs transaksi Bank Indonesia juga menunjukkan tekanan yang masih kuat. Dolar AS tercatat dijual di kisaran Rp17.952 dan dibeli sekitar Rp17.774, sementara kurs tengah berada di sekitar Rp17.863 per dolar AS. 

Dari dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi memberikan sinyal yang beragam. Aktivitas manufaktur Indonesia mulai menunjukkan perbaikan setelah PMI Manufaktur Mei kembali berada di level 50,0 atau masuk zona ekspansi. Namun, sentimen positif tersebut tertahan oleh menyusutnya surplus neraca perdagangan April yang hanya mencapai sekitar US$90 juta, jauh lebih rendah dibanding bulan sebelumnya. 

Selain itu, inflasi tahunan Indonesia pada Mei naik menjadi 3,08 persen, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan inflasi dan melemahnya surplus perdagangan dinilai mempersempit ruang penguatan Rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi. 

Dari sisi eksternal, penguatan Dolar AS didorong oleh data ekonomi Amerika Serikat yang masih solid. Data lowongan pekerjaan JOLTS April menunjukkan peningkatan menjadi 7,618 juta posisi, jauh melampaui perkiraan pasar. Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja AS masih kuat dan berpotensi membuat Bank Sentral AS (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. 

Pelaku pasar kini menantikan rilis data tenaga kerja ADP dan PMI Jasa AS yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan Dolar dalam jangka pendek. Jika hasilnya lebih kuat dari ekspektasi, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, berpotensi semakin besar. 

Dalam sepekan terakhir, nilai tukar Dolar AS bahkan sempat menyentuh level Rp18.015 sebelum kembali bergerak di kisaran Rp17.900. Tren ini menunjukkan bahwa pasar masih menaruh perhatian besar terhadap perkembangan ekonomi global serta prospek kebijakan moneter Amerika Serikat. 

Sejumlah analis juga memperkirakan Rupiah masih akan menghadapi tantangan hingga akhir tahun. Bahkan, terdapat proyeksi yang menempatkan kurs USD/IDR berada sedikit di atas Rp18.000 pada penghujung 2026 apabila sentimen global dan kekhawatiran investor terhadap pasar domestik belum mereda. 

Sumber: FXStreet Indonesia, 3 Juni 2026 (diolah/redaksi). 

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Rupiah Tertekan, Dolar AS Dekati Rp18.000 Jelang Rilis Data Tenaga Kerja dan PMI Jasa Amerika Serikat
  • Rupiah Tertekan, Dolar AS Dekati Rp18.000 Jelang Rilis Data Tenaga Kerja dan PMI Jasa Amerika Serikat
  • Rupiah Tertekan, Dolar AS Dekati Rp18.000 Jelang Rilis Data Tenaga Kerja dan PMI Jasa Amerika Serikat
  • Rupiah Tertekan, Dolar AS Dekati Rp18.000 Jelang Rilis Data Tenaga Kerja dan PMI Jasa Amerika Serikat
  • Rupiah Tertekan, Dolar AS Dekati Rp18.000 Jelang Rilis Data Tenaga Kerja dan PMI Jasa Amerika Serikat
  • Rupiah Tertekan, Dolar AS Dekati Rp18.000 Jelang Rilis Data Tenaga Kerja dan PMI Jasa Amerika Serikat

Posting Komentar